Parenting, Personal Development

Menjadi Ibu Bahagia di Kelas Bunda Cekatan

Bulan Desember penghujung 2019 ini saya mengikuti kelas yang Inspiring dan menantang yaitu Bunda Cekatan, untuk ikut programnya bunda bisa mendaftar sebagai member Komunitas Ibu Profesional yang selanjutnya saya singkat IP. Tahapan perkuliahannya di Institute Ibu Profesional (IIP) adalah foundation, matrikulasi (1 bulan), Bunda Sayang (1 tahun), Bunda Cekatan (6 bulan), Bunda Produktif, Bunda Sholihah.

Program berbasis pembelajaran online ini memiliki tahapan demi tahapan, semacam coaching untuk para Ibunda mampu mendidik anak dan mengelola rumah tangganya. Untuk kelas Bunda Cekatan langsung dipandu Ibu Septi Peni Wulandani, semoga Allah merahmati beliau. Saya benar benar exciting. Kadang saya merasa program ini baru release sengaja di akhir tahun kali ya biar setengah tahun kedepan lebih terencana dan tergerak untuk jadi pribadi dan keluarga yang lebih baik dari tahun sebelumnya (perasaan ngomong “jadi pribadi yang lebih baik sudah di tahun tahun lalu -belum bagus bagus juga ya maak?/ yang jelas sudah adalh perbaikan disana sini, heeheh)

Pembahasan pertama untuk Bunda Cekatan ini dimulai dengan “Lacak Kekuatan” dikemas dengan cara belajar yang menyenangkan yang bisa kita adaptasi juga untuk mendampingi anak anak. Full imajinasi dan menantang, begitu menyenangkan. Ibarat ditarik dari kotak persembunyian nih. Entah kenapa dengan belajar di Ibu profesional saya jatuh cinta bener, meleleh.. 😀 ehem, lanjut dulu ya…

Eee saya Flash back dulu yah, wkwkw. Nah zaman dulu nih, (jauh amat flash backnya:D) Jika dinilai dari karakter kepribadian menurut ahli filsafat Yunani Hippocrates hingga disempurnakan oleh Galenus pada 400 tahun SM, yang sekarang dikenal dalam dunia psikologi sebagai teori Hippocrates-Galenus, dan dipopulerkan di buku “Personality Plus” yang ditulis Florence Littauer,  saya adalah termasuk orang yang melankolis, (bisa searching di google yaa). Orang bertipe ini termasuk golongan introvert ( dulu saya dikira ekstrovert oleh teman teman secara kasat mata dan bukan melankolis, karena kalau sudah dekat bisa bisa sangat akrab kok hehe). Namun ealah saat dites saya ternyata fix melankolis-sanguinis, heheheh. Cara belajar saya adalah Visual.

Masih belum puas dengan tes kepribadiaan saat kuliah maka saat menjadi ibu saya tes Talents Mapping dan sifat bakat saya lebih kuat dan banyak di area aktivitas Thinking (gelodak) namun saya terkadang tidak mau terpatok dan terkotak di situ yaaa… Tapi sudah seusia begini sepertinya ga berubah ubah heheh.

Meskipun lambat laun ngomong ma diri (sudahlah terimalah default yang sudah terinstall ini) dengan cara fokus mengembangkan kesukaan.

Bagaimana Caranya Bahagia?

Kembali ngobrolin Bunda cekatan, kelas ini polanya adalah mematomorfosiskan diri dengan kelas telur telur perumpamaan seperti proses Kupu kupu. Pembahasan dimulai dengan melacak kekuatan kita sebagai Ibu, Perempuan dan Istri. Kekuatan ini adalah yang kita suka dan bisa. Yang membuat mata kita berbinar2.

Jadi saya menilik aktivitas saya yang sudah saya jalani selama ini.

Sebagai Ibu

Aktivitas logistik: beresin dapur-cooking-baking-mencuci piring- belanja dapur online-manajemen stok-mencari dan mengumpulkan resep

Aktivitas sandang: nyetrika-menjemur-mencuci-belanja baju online

Aktivitas education : Momong anak-jalan jalan-mengantar anak-bermain bersama anak-nonton bareng-ngobrol bareng

Aktivitas home decor: Beres beres-declutring-menata-mengorganizir rumah-bersih bersih-menghias rumah

Aktivitas gardening: beresin tanaman-halaman-bercocok tanam

Sebagai Perempuan

Phtography, natural live style, free gluten baking, soap srtisan, berkreasi, arisan, pengajian, berkumpul dengan teman teman, berkomunitas, menulis, creator/bikin produk kecantikan, kursus/learn, social media, Ideator, Input

Sebagai Istri

Ngobrol bersama suami, Jalan Jalan, Berduaan, Tukar pikiran tentang usaha/ pembelajaran /keluarga

Hasil rangkumannya dan perenungan panjang saya menitikberatkan pada kegiatan dibawah ini yang saya paling suka diantara yang suka.

Banyak hal yang mau saya perbaiki dari diri saya terkait manajemen waktu. Benar sekali dari sekian banyak aktivitas, tak mampu kita menyelesaikan semuanya, terkadang kita perlu meringkas antara kewajiban rumah tangga dan kebutuhan bahagia. Tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial. Tegaslah pada kelambatan diri yang suka menunda nunda. Ajaklah diri bergerak. Untuk tanggung jawab kita yang lebih besar kepada Allah SWT.

Keunikan wanita akan pudar seiring ketaksanggupan ia menyikapi waktu yang tak mau kompromi. Keunikan wanita akan bersinar saat ia bahagia dengan manajemen waktu yang tegas.

-Jogja, Desember rain. Dini hari, sunyi-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *